Tampilkan postingan dengan label belanja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belanja. Tampilkan semua postingan

Tempat perbelanjaan di Solo




NAMA KELOMPOK:
1.BINANDRA SURYA DINASTI
2.MAYA LUKNA ASKARINA






Sejarah-Pasar Klewer Solo

Pasar klewer melalui proses panjang sebutan nama, sampai disebutnya pasar Klewer yang hingga kini melegenda di kota Solo dan menjadi salah satu tujuan wisata dan ikon kota Solo. Pasar Klewer sejarahnya  dimulai dari jaman pendudukan Jepang di Indonesia, sekitar pasar klewer dulunya merupakan tempat pemberhentian kereta api yang digunakan pribumi /penduduk setempat untuk berdagang sehingga terbentuk proses jual beli layaknya pasar yang lebih terkenalnya dulu disebut pasar Slompretan (diambil dari bahasa jawa “Slompret” yang artinya Terompet), kenapa disebut Slompretan ? , karena dekat dengan pemberhentian kereta api dan kereta api mau berangkat membunyikan klakson yang mirip suara terompet.
Pasar Slompretan (sebutan pasar klewer dulu) ini dulunya tempat berdagang pedagang  pedagang kecil yang menjajakan / menjual kain batik tanpa ada kios dan cara membawanya dengan cara ditaruh di pundak pedagangnya sehingga nampak Kleweran (sebutan bahasa jawa “Kleweran” yang berarti menjuntai tidak beraturan). Karena cara pedagang yang membawa barang dagangannya dipundak Kleweran sehingga sebutan pasar Slompretan tersebut berubah menjadi pasar Klewer sampai sekarang. Berkembangnya pasar Klewer dimulai tahun 1942 s/d 1945 dan semakin pesat hingga tahun 1968. Kemudian tanggal 9 Juni 1970 pasar Klewer mulai dibangun permanen bertingkat 2 lantai diresmikan pada jaman pemerintahan presiden Soeharto.
Pasar Klewer, pasar terbesar se-Asia Tenggara yang menjual berbagai macam kain, makanan khas Solo, assesoris dan pakaian, Pasar sebagai pusat kulakan kain, pusat batik nusantara dari berbagai penjuru kota di Indonesia, ikon kota Solo sebagai tujuan wisata itu kini hangus terbakar. 
Semoga pasar Klewer cepat kembali bangkit setelah terkena musibah ini dan dapat mempertahankan predikatnya sebagai pasar tekstil terbesar se-Asia Tenggara.

Cara transportasi
Koridor 3 (Palur-Kartasura) via Pasar Klewer
Terminal Palur-Jl. KH Maskur-Jl. Ki Hajar Dewantara-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Jenderal Sudirman-Pasar Klewer-Jl. Radjiman-Jongke-Makamhaji (Jl. Slamet Riyadi Kartasura)-Terminal Kartasura


kota Solo. Solo Paragon Lifestyle Mall yang berkonsep "shopping, dining, entertainment" ini merupakan salah satu properti di kawasan Superblok Solo Paragon seluas 4,1 hektare yang berada di jantung kota Solo. Solo Paragon Lifestyle Mall berdiri diatas 5 lantai termasuk lantai parkir dengan luas mal 60.000 m2 dan area parkir yang memiliki daya tampung setidaknya 1.000 mobil dan 700 motor. Pembukaan gerai Carrefour di Solo Paragon Mall pada 19 Januari 2012. Sedangkan pembukaan Centro Departement Store di Solo Paragon Mall pada 1 November 2012. Centro Departement Store tersebut merupakan store ke-8 di Indonesia. Rencananya jaringan Cineplex Bioskop 21 yaitu Cinema XXI dan The Premiere XXI juga akan buka di Solo Paragon Lifestyle Mall akhir tahun 2013.


PUSAT GROSIR SOLO
 

Tujuan Utama Wisata Belanja.
Sektor perdagangan adalah sektor yang terus-menerus mengalami peningkatan dan menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi roda perekonomian Kota Solo. Pusat Grosir Solo hadir sebagai wadah bagi para penguasaha di bidang perdagangan yang bergerak di penjualan produk fashion terutama batik.

Tentang Pusat Grosir Solo
Pusat Grosir Solo merupakan pusat perbelanjaan (trade center) yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang kenyamanan dan keamanan baik kepada pedagang maupun kepada para pengunjungnya. Pusat Perbelanjaan ini melayani kebutuhan fashion bagi pembeli dalam jumlah grosir maupun eceran. Selain pusat perdagangan, Pusat Grosir Solo juga menjadi tujuan utama bagi para wisatawan ketika mereka mencari oleh-oleh batik, saat berkunjung ke Kota Solo.

Koridor 1 (Bandara Adisoemarmo-Palur)
Bandara Adisoemarmo – Termina l Kartasura – Jl. Ahmad Yani – Jl. Slamet Riyadi – Jl. Jenderal Sudirman – Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Kol. Sutarto – Jl. Ir Sutami – Terminal Palur.
Terminal Palur – Jl. Ir. Sutami – Jl. Kol. Sutarto – Jl. Urip Sumoharjo – Jl. Kapten Mulyadi – Jl. Veteran – Jl. Bhayangkara – Jl. Radjiman – Jl. Wahidin – Jl. Slamet Riyadi – Jl. Ahmad Yani -Terminal Kartasura – Bandara Adisoemarmo.
Dengan koridor ini dari bandara Adi Sumarmo anda bisa ke Solo Grand Mall, Pusat Grosir Solo (PGS), Galabo, Keraton, BTC, Klewer, Kantor Pos, Balai Kota, dan Pasar Gedhe. Rute dari palur ke bandara Adi Sumarmo berbeda, karena Jl. Slamet Riyadi merupakan jalan satu arah.



Tempat Belanja Seru Solo Grand Mall Solo

 

Bosan di rumah dan ingin jalan-jalan ke tempat yang ramai dan menarik, itu mungkin yang anda rasakan jika tidak memiliki teman hhehe
Kamu bisa ke Solo Grand Mall yang ada di Jalan Slamet Riyadi, akses yang dapat kamu tempuh mudah kok, dari terminal Solo kamu bisa naik angkot warna kuning Nomor 02, otomatis akan turun di sebelah barat Grand Mall. Nah setelah turun kamu bisa jalan kaki melewati citywalk, sepanjang citywalk dapat menikmati makanan dan jajanan khas Solo biasanya sepanjang citywalk digunakan untuk nongkrong anak-anak muda Solo.

Koridor 1 (Bandara Adisoemarmo-Palur)
Bandara Adisoemarmo-Terminal Kartasura-Jl. Ahmad Yani-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jendera Sudirman-J;. Urip Sumoharjo-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Ir Sutami-Terminal Palur.

Terminal Palur-Jl. Ir. Sutami-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Kapten Mulyadi-Jl. Veteran-Jl. Bhayangkara-Jl. Radjiman-Jl. Wahidin-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Ahmad Yani-Terminal Kartasura-Bandara Adisoemarmo.

The Park Solo

The Park Solo yang terletak di  Jalan Ir Soekarno, Kab. Sukoharjo, Jawa Tengah ini mengambil tema “The Green Shopping Atmosphere“, family and lifestyle mall.
The Park Solo

Mall yang berada di kawasan Solo Baru ini menawarkan tidak hanya pengalaman one stop shopping untuk merek-merek ternama, tetapi juga pengalaman merasakan al-fresco dining, hiburan, rekreasi sekaligus memiliki berbagai fasilitas seperti hunian, pendidikan, hotel, kesehatan, area komersial, dan pusat perbelanjaan yang terintegrasi sebagai sarana pusat kenyamanan bagi warga Solo dan sekitarnya.
Koridor 4 (Kartasura-Solo Baru)
Terminal Kartasura-Jl. Adi Sucipto-Jl. Dr. Moewardi-Jl. Yosodipuro-Jl. Gajah Mada-Jl. Honggowongso-Jl. Veteran-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. KH Wahid Hasyim-Bundaran Pandawa Solo Baru

Bundaran Pandawa-Grogol-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. Veteran-Jl. Yos Sudarso-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Ronggowarsito-Jl. Dr Soepomo-Jl. Yosodipuro-Jl. Dr. Moewardi-Jl. Adi Sucipto-Terminal Kartasura

Hartono Mall

Merupakan salah satu mall di Solo yang dibangun oleh PT Delta Merlin Dunia Properti untuk menyempurnakan kawasan Solo Baru menjadi kota baru atau City Town dan Central Bussiness District (CBD).
Hartono Mall yang terletak di Jalan Ir. Soekarno , Solo Baru, Grogol, Sukoharjo ini terdiri dari Hypermarket, Dept Store, Cafe, Resto, Fashion Branded, Optik, Jewelry, IT Center, Phone Market, Book Store, Restaurant, Cafe, Cinema, Foodocurt, Game Center dan Karaoke. .
 Koridor 7 (Palur-Solo Baru)
Terminal Palur-Jl. Ir Sutami-Jl. HOS Cokroaminoto-Jl. Surya-Jl. Urip Sumoharjo (dihilangkan)-Jl. Jenderal Sudirman-Jl. Ranggawarsita-Jl. Yos Sudarso-Jl. Veteran-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. KH Wahid Hasyim-Bundaran Pandawa Solo Baru

Bundaran Pandawa-Jl. KH Wakhid Hasyim-Jl. Brigjen Sudiarto-Jl. Veteran-Jl. Yos Sudarso-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jend. Sudirman-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Surya-Jl. HOS Cokroaminoto-Jl. Ir. Sutami-Terminal Palur


Solo Square 

(bahasa Jawa: Hanacaraka, adalah sebuah mal yang terletak di Surakarta yang terdiri atas 5 lantai. Tak mau ketinggalan dengan mal-mal baru di kota Solo, Solo Square bersolek dengan penambahan lantai atas untuk Cinema XXI pada tahun 2012 dan Ace Hardware pada tahun 2013. Kini Solo Square menjadi salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar dan lengkap di kota Solo dan sekitarnya.
Koridor 1 (Bandara Adisoemarmo-Palur)
Bandara Adisoemarmo-Terminal Kartasura-Jl. Ahmad Yani-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Jendera Sudirman-J;. Urip Sumoharjo-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Ir Sutami-Terminal Palur.

Terminal Palur-Jl. Ir. Sutami-Jl. Kol. Sutarto-Jl. Urip Sumoharjo-Jl. Kapten Mulyadi-Jl. Veteran-Jl. Bhayangkara-Jl. Radjiman-Jl. Wahidin-Jl. Slamet Riyadi-Jl. Ahmad Yani-Terminal Kartasura-Bandara Adisoemarmo.


Pasar Gede Hardjonegoro 
atau yang biasa dikenal dengan Pasar Gede Solo adalah salah satu tempat bersejarah kota Solo. Berada di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan Urip Sumohardjo kota Solo, 
selain fungsinya sebagai pasar,Pasar Gedhe ini juga sebagai menumen sejarah di Kota Surakarta. :D
Dirancang oleh arsitek Belanda bernama Thomas Karsten, Pasar Gede mulai dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada 1930. Pasar ini pun menjadi pasar tertua di Solo. Nama Hardjonegoro diambil dari nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonegoro dari Keraton Surakarta. Oleh sebab itu Pasar Gede Solo juga menjadi sebagai simbol harmoni kehidupan sosial budaya yang telah berkembang di Solo pada waktu itu. Bahkan sepuluh meter di samping Pasar Gede terdapat sebuah klenteng yang masih berdiri hingga saat ini. Pasar Gede Solo memang berada di kawasan pecinan. Sementara itu nama “Gede” diberikan karena arsitektur pasar menyerupai benteng dengan pintu masuk utama berbentuk singgasana berukuran besar dan atap yang lebar. Ciri khas ini ini masih nyata dan dapat disaksikan hingga kini. 
Sejak berdiri pasar ini menjadi pusat jual-beli masyarakat,orang Cina dan Belanda.Pasar ini sempat terbakar pada tahun 2000,namun setelah pemugaran,pasar ini pun menjadi Pasar Tradisional termegah di Surakarta.
Pasar Gede adalah pasar kebutuhan pokok. Sayuran segar, aneka bumbu, daging hingga buah-buahan mengisi ruang tengah pasar berlantai dua ini. Sementara itu pedagang makanan khas Solo berada di sekeliling lapak sembako. Ada puluhan penjual yang menjajakan nasi liwet, pecel, anek oseng-oseng, ayam goreng, dawet, kerupuk rambak, karak, intip hingga berbagai jenis jajanan pasar 
selain menjadi tempat tujuan belanja pasar seluas kurang lebih 4.000 mini juga sebagai destinasi tujuan wisata kuliner di Solo. 
Untuk menuju Pasar Gedhe dapat menggunakan kendaraan pribadi,maupun transportasi umum seperti Batik Solo Trans. 

Pada tahun 2011 Pasar Gede  dinobatkan sebagai Pasar Tradisional Terbaik se-Jawa Tengah.dengan letaknya yang berada di pusat kota juga menjadikan Pasar Gede ini sebagai icon di sisi lain Kota Solo.
KORIDOR 5 (MOJOSONGO – SOLO BARU)
Mojosongo – Kandang Sapi – Panggung Tirtomoyo – Pasar Gede – PGS – Pasar Kliwon – Gading – Gemblegan – Bunderan Solo Baru.

Bunderan Solo Baru – Gemblegan – Gading – Pasar Kliwon – Loji Wetan – Telkom – Balaikota – Panggung Tirtomoyo – Kandang Sapi – Mojosongo.






PASAR GEDE SOLO



PASAR GEDE SOLO, PASAR TRADISIONAL TERBAIK DI JAWA TENGAH


 
Di Indonesia sebuah pasar tradisional tidak hanya bermakna sebagai tempat interaksi sosial antara pembeli dan penjual namun juga kerap mengabadikan jejak sejarah perkembangan suatu daerah atau kota di mana pasar tersebut berada. Selain itu beberapa pasar tradisional juga menggambarkan keagungan berfikir manusia tempo dulu yang diwujudkan melalui arsitekturnya yang khas.


Pasar Gede Hardjonegoro atau yang biasa dikenal dengan Pasar Gede Solo adalah salah satu fragmen sejarah kota Solo. Berada di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan Urip Sumohardjo kota Solo, Pasar Gede berdiri menjadi ruang interaksi sosial sekaligus “monumen sejarah” Surakarta.

Dirancang oleh arsitek Belanda bernama Thomas Karsten, Pasar Gede mulai dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada 1930. Pasar ini pun menjadi pasar tertua di Solo. Nama Hardjonegoro diambil dari nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonegoro dari Keraton Surakarta. Oleh sebab itu Pasar Gede Solo juga menjadi sebagai simbol harmoni kehidupan sosial budaya yang telah berkembang di Solo pada waktu itu. Bahkan sepuluh meter di samping Pasar Gede terdapat sebuah klenteng yang masih berdiri hingga saat ini. Pasar Gede Solo memang berada di kawasan pecinan. Sementara itu nama “Gede” diberikan karena arsitektur pasar menyerupai benteng dengan pintu masuk utama berbentuk singgasana berukuran besar dan atap yang lebar. Ciri khas ini ini masih nyata dan dapat disaksikan hingga kini.



 
Di Indonesia sebuah pasar tradisional tidak hanya bermakna sebagai tempat interaksi sosial antara pembeli dan penjual namun juga kerap mengabadikan jejak sejarah perkembangan suatu daerah atau kota di mana pasar tersebut berada. Selain itu beberapa pasar tradisional juga menggambarkan keagungan berfikir manusia tempo dulu yang diwujudkan melalui arsitekturnya yang khas. Pasar Gede Solo, Jawa Tengah. Ada banyak pasar tradisional yang menyimpan memori kolektif sejarah masa lalu tentang daerah-daerah di Indonesia meski jumlahnya mungkin semakin berkurang atau tergusur oleh kemajuan zaman. Sementara sebagian lainnya direnovasi hingga menghilangkan arsitektur aslinya. Akhirnya tak banyak lagi pasar tradisional yang bertahan dengan catatan-catatan sejarahnya yang berharga. Dan tak banyak juga pasar tradisional yang asyik sebagai tempat berwisata. Di Indonesia Pasar Beringharjo Yogyakarta mungkin menjadi yang paling dikenal sebagai pasar tradisional yang mampu melanjutkan sejarahnya sekaligus menjadi ikon wisata. Tapi tak hanya Pasar Beringharjo saja karena tak jauh dari Yogyakarta ada juga sebuah pasar tradisional yang masih kokoh berdiri dengan kebesaran dan sejarahnya yang terus dirawat hingga kini. Pasar Gede Hardjonegoro atau yang biasa dikenal dengan Pasar Gede Solo adalah salah satu fragmen sejarah kota Solo. Berada di Jalan Jendral Sudirman menuju Jalan Urip Sumohardjo kota Solo, Pasar Gede berdiri menjadi ruang interaksi sosial sekaligus “monumen sejarah” Surakarta. Dirancang oleh arsitek Belanda bernama Thomas Karsten, Pasar Gede mulai dibangun pada tahun 1927 dan selesai pada 1930. Pasar ini pun menjadi pasar tertua di Solo. Nama Hardjonegoro diambil dari nama seorang keturunan Tionghoa yang mendapat gelar KRT Hardjonegoro dari Keraton Surakarta. Oleh sebab itu Pasar Gede Solo juga menjadi sebagai simbol harmoni kehidupan sosial budaya yang telah berkembang di Solo pada waktu itu. Bahkan sepuluh meter di samping Pasar Gede terdapat sebuah klenteng yang masih berdiri hingga saat ini. Pasar Gede Solo memang berada di kawasan pecinan. Sementara itu nama “Gede” diberikan karena arsitektur pasar menyerupai benteng dengan pintu masuk utama berbentuk singgasana berukuran besar dan atap yang lebar. Ciri khas ini ini masih nyata dan dapat disaksikan hingga kini. 13791484841955204279 Gerbang utama Pasar Gede Solo dengan ukurannya yang besar dan arsitekturnya yang unik. 13791488511527597668 Tukang becak berjejer rapi di depan gerbang masuk Pasar Gede. Sejak berdiri Pasar Gede menjadi pusat perdagangan antara masyarakat pribumi, China dan Belanda. Meski sempat mengalami beberapa kali pemugaran dan perbaikan, termasuk setelah sempat terbakar pada tahun 2000, Pasar Gede akhirnya menjelma sebagai pasar tradisional termegah di Solo. Arsitektur aslinya pun tetap dipertahankan. Berbeda dengan Pasar Beringharjo Yogyakarta yang lebih dikenal sebagai sentra batik, Pasar Gede adalah pasar kebutuhan pokok. Sayuran segar, aneka bumbu, daging hingga buah-buahan mengisi ruang tengah pasar berlantai dua ini. Sementara itu pedagang makanan khas Solo berada di sekeliling lapak sembako. Ada puluhan penjual yang menjajakan nasi liwet, pecel, anek oseng-oseng, ayam goreng, dawet, kerupuk rambak, karak, intip hingga berbagai jenis jajanan pasar. Oleh sebab itu Pasar seluas kurang lebih 4.000 m2 ini tak hanya menjadi tempat berbelanja kebutuhan warga Solo namun juga menjadi destinasi wisata kuliner para pelancong. Dari tempat ini pula kita bisa menaiki becak berkeliling kota Solo karena puluhan tukang becak selalu berbaris di depan Pasar Gede menunggu penumpang. 13791485751114730220 13791486182085428620 1379148653855211899 Ruangan Pasar Gede yang lega dengan para pedagang yang berjualan di lapak-lapak yang tertata rapi. Tahun 2011 Pasar Gede ditetapkan sebagai Pasar Tradisional Terbaik di Jawa Tengah. Meski dipenuhi banyak pedagang, tidak ada kesan sumpek di Pasar Gede Solo. Para pedagang berjualan di lapak yang tertata rapi. Lantai pasar meski tidak selalu bersih namun cukup kering sehingga nyaman untuk ditapaki. Yang tak kalah menarik adalah atapnya yang sangat tinggi sehingga ruangan di dalam pasar terasa sangat lega untuk dijelajahi. Pasar Gede juga dilengkapi dengan jembatan penghubung menuju pasar ikan yang terletak di depannya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/mengunjungi-pasar-gede-solo-pasar-tradisional-terbaik-di-jawa-tengah_552bd16f6ea834362b8b456c

Ruangan Pasar Gede yang lega dengan para pedagang yang berjualan di lapak-lapak yang tertata rapi. Tahun 2011 Pasar Gede ditetapkan sebagai Pasar Tradisional Terbaik di Jawa Tengah. Meski dipenuhi banyak pedagang, tidak ada kesan sumpek di Pasar Gede Solo. Para pedagang berjualan di lapak yang tertata rapi. Lantai pasar meski tidak selalu bersih namun cukup kering sehingga nyaman untuk ditapaki. Yang tak kalah menarik adalah atapnya yang sangat tinggi sehingga ruangan di dalam pasar terasa sangat lega untuk dijelajahi. Pasar Gede juga dilengkapi dengan jembatan penghubung menuju pasar ikan yang terletak di depannya.

Jajanan di Pasar Gede
Es dawet Pasar Gede


Minuman segar ini sudah lumayan terkenal. Tempat jualannya dapat dengan mudah ditemui jika Anda masuk dari pintu pasar sebelah utara. Selain dawet, minuman ini juga berisi telasih, jenang sumsum, ketan hitam, dan tape ketan. Jadi, selain menyegarkan, minuman ini sekaligus bisa mengenyangkan.
Selain es dawet, ada gempol pleret, minuman dari santan ini memiliki rasa yang unik, perpaduan antara manis dan gurih, di dalamnya terdapat ‘bola bola’ kecil yang terbuat dari beras. Penjual gempol pleret bisa ditemui di samping pintu utama Pasar Gede. Bagi Anda yang mungkin kurang nyaman blusukan masuk pasar tradisional, tak perlu risau, karena es dawet dan gempol pleret Pasar Gede telah membuka cabangnya di Langen Bogan.


Nasi Liwet

Kalau kota Yogyakarta terkenal dengan Nasi Gudheg, Solo terkenal dengan Nasi Liwet yang memiliki rasa gurih pada nasinya. Jaman dahulu banyak wisatawan suka dengan warung Nasi Liwet yang berdiri megah di Jalan Keprabon, ( maaf ) dari pengalaman saya Keprabon identik dengan lokasi kuliner wisatawan menengah ke atas. Cita rasa yang sudah ngawur ditambah kalkulator nge-hang membuat saya tidak pernah merekomendasikan tempat tersebut.
Jadi dimana Nasi Liwet enak di Solo? Salah satunya ada di Pasar Gede Hardjonagoro, tepatnya di seberang jalan pasar, bekas pasar ikan.
Nasi liwet adalah nasi gurih dengan lauk suwiran daging ayam, ditambah telur kuning, ampas santan kental kemudian disiram dengan sambel goreng yang berwarna kemerahan. Rasa gurih nasi dicampur dengan sambel goreng yang terbuat dari irisan labu siam tidak membuat eneg, justru membuat rasanya tambah maknyuss. Tambahan telur kecap membuat rasa gurih dan manis menari-nari di lidah.
Ada baiknya sambel goreng hanya ambil ampas saja tanpa kuah, karena kuah yang terlalu banyak membuat nasi liwet terlihat seperti sup dan hilanglah rasa asli liwet. Prestasi almarhum Bu Sri sudah tidak diragukan, sudah terkenal semenjak jaman orba, bahkan beliau pernah dipanggil ke istana negara oleh Pak Harto loh. Sekarang diteruskan oleh anak perempuannya yang masih mempertahankan resep asli warisan dari ibunya. Harga satu pincuk Nasi Liwet cuma 6.000 rupiah ( sudah termasuk telur kecap ).



Rambak

Satu lagi makanan khas asli Solo yang sudah sedikit langka, si penjual kadang terlihat berjualan di pasar, kadang juga tidak nampak selama berhari-hari alias tergantung hoki berburu makanan ini. Makanan tradisional yang saya maksud adalah Cabuk Rambak. Seiring dengan selera lidah masyarakat yang lebih cinta makanan modern membuat Cabuk Rambak hilang perlahan tergerus oleh jaman.
Apa itu Cabuk Rambak? Cabuk rambak  adalah potongan ketupat yang diiris tipis-tipis disiram dengan sambal yang terbuat dari campuran biji wijen, kemiri, kelapa parut, dan daun jeruk. Penyajiannya diletakkan di lipatan daun pisang ( pincuk ) dan dilengkapi dengan karak ( sejenis kerupuk yang terbuat dari beras ). Rasa kemiri yang kuat serta harum daun jeruk membuat satu pincuk terasa kurang untuk meresapi rasa cabuk rambak ini, dengan kata lain membuat saya berkata “Lagi, lagi dan lagi…”.
Dimana bisa menemukan makanan tradisional ini? Kalau beruntung bisa ditemui di pinggir Pasar Gedhe, sekitar Pasar Klewer atau di sekitar SD Marsudirini Purbayan. Satu pincuk cabuk rambak hanya 2.000 rupiah kawan.
 Dan masih banyak lagi.

 Transportasi




Akses menuju pasar ini juga cukup mudah meski lalu lintas di sekitar pasar cukup padat. Dari Stasiun Purwosari, bus Batik Solo Trans siap mengantarkan kita tiba di depan Pasar Gede.
Jalur bus batik 


Lokasi Pasar Gede
 

Pasar Gede terletak di seberang Balaikota Surakarta pada jalan Jendral Sudirman dan Jalan Pasar Gede di perkampungan warga keturunan Tionghoa atau Pecinan yang bernama Balong dan terletak di Kelurahan Sudiroprajan. Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak yang keturunan Tionghoa pula. Budayawan Jawa ternama dari Surakarta Go Tik Swan yang seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar K.R.T. (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.
Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan 

Posting By : Nina Widiyawati, tim (dwi prasetya,hendra kurniawan,chuntya)
Ruangan Pasar Gede yang lega dengan para pedagang yang berjualan di lapak-lapak yang tertata rapi. Tahun 2011 Pasar Gede ditetapkan sebagai Pasar Tradisional Terbaik di Jawa Tengah. Meski dipenuhi banyak pedagang, tidak ada kesan sumpek di Pasar Gede Solo. Para pedagang berjualan di lapak yang tertata rapi. Lantai pasar meski tidak selalu bersih namun cukup kering sehingga nyaman untuk ditapaki. Yang tak kalah menarik adalah atapnya yang sangat tinggi sehingga ruangan di dalam pasar terasa sangat lega untuk dijelajahi. Pasar Gede juga dilengkapi dengan jembatan penghubung menuju pasar ikan yang terletak di depannya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/mengunjungi-pasar-gede-solo-pasar-tradisional-terbaik-di-jawa-tengah_552bd16f6ea834362b8b456c
Ruangan Pasar Gede yang lega dengan para pedagang yang berjualan di lapak-lapak yang tertata rapi. Tahun 2011 Pasar Gede ditetapkan sebagai Pasar Tradisional Terbaik di Jawa Tengah. Meski dipenuhi banyak pedagang, tidak ada kesan sumpek di Pasar Gede Solo. Para pedagang berjualan di lapak yang tertata rapi. Lantai pasar meski tidak selalu bersih namun cukup kering sehingga nyaman untuk ditapaki. Yang tak kalah menarik adalah atapnya yang sangat tinggi sehingga ruangan di dalam pasar terasa sangat lega untuk dijelajahi. Pasar Gede juga dilengkapi dengan jembatan penghubung menuju pasar ikan yang terletak di depannya.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/mengunjungi-pasar-gede-solo-pasar-tradisional-terbaik-di-jawa-tengah_552bd16f6ea834362b8b456c

PUSAT GROSIR SOLO (PGS)



PUSAT GROSIR SOLO (PGS)

Sektor perdagangan adalah sektor yang terus-menerus mengalami peningkatan dan menjadi salah satu penyumbang terbesar bagi roda perekonomian Kota Solo. Pusat Grosir Solo hadir sebagai wadah bagi para pengusaha di bidang perdagangan yang bergerak di penjualan produk fashion terutama batik
PGS juga sebagai pusat perbelanjaan batik juga yang menjadi trade center di Kota Solo. Dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang keamanan dan kenyamanan untu para pedagang maupun untuk para pembeli,
pelancong yang ingin membeli grosir maupun satuan.
PGS melayani kebutuhan fashion bagi pembeli dalam jumlah grosir dan eceran kok. Selain pusta perdaganagan, PGS juga menjadi tujuan utama bagi para wisatawan ketika berkunjung ke Solo.
Terus dimana letaknya jika sista mau ke PGS ?
Sista tau kan Gladag yang merupakan pusat kota dekat dengan obyek wisata
keraton Kasununan dan keraton Mangkunegaran. Tepatnya di Jl. Mayor Sunaryo No.1 Gladag, Solo. Nah disitulah sista dapat menemukannya pas di sebelah selatan Gladag.
PGS (Pusat Grosir Solo) juga menjadi tujuan akhir transportasi wisata khas Solo misalnya ; Kereta Api Uap Jaladara, Bus Tingkat Werkudara dan Kereta Kencana.


PGS (Pusat Grosir Solo) mempunyai parkir yang luas, parkir motor terdiri dari 350 lot, dan parkir mobil terdiri  atas 350 lot juga. Bangunan gedung yang terdiri atas 5 Lantai dan jumlah kavling 1221. Untuk fasilitas yang diberikan oleh pihak PGS nih sis untuk para customer antara lain; Lift Service, Escalator, Toilet yang terletak di setiap lantai artinya setiap lantai ada toiletnya,
area parkir yang sudah saya sebutkan tadi, Keamanan 24 Jam Non stop, Cleaning Service, Loading dock yang bisa membantu sista ketika kelelahan berkeliling dan ingin beristirahat, Genset, Customer Service, CCTV, Sprinkle dan Alat Pemadam Api. Dengan demikian sista yang hoi sekali berbelanja dapat berbelanja dengan nyaman, tenang dan aman.
gedung yang terdiri atas 5 Lantai dan jumlah kavling 1221. Untuk fasilitas yang diberikan oleh pihak PGS nih sis untuk para customer antara lain; Lift Service, Escalator, Toilet yang terletak di setiap lantai artinya setiap lantai ada toiletnya,
area parkr yang sudah saya sebutkan tadi, Keamanan 24 Jam Non stop, Cleaning Service, Loading dock yang bisa membantu sista ketika kelelahan berkeliling dan ingin beristirahat, Genset, Customer Service, CCTV, Sprinkle dan Alat Pemadam Api. Dengan demikian sista yang hoi sekali berbelanja dapat berbelanja dengan nyaman, tenang dan aman.

Spesifikasi Gedung Pusat Grosir Solo

Luas Tanah : 10.190 m2
Luas Bangunan : 30.278 m2
Jumlah Lantai : 5 lantai
Lahan Sewa : 9.700 m2
Jumlah Kavling : 1221
Parkir Mobil : 350 lot
Parkir Motor : 350 lot

Fasilitas Pusat Grosir Solo

Lift service
Escalator
Toilet tiap lantai
Area Parkir motor dan Mobil
Keamanan 24 jam
Cleaning Service
Loading dock
Genset
Customer Service
CCTV
Sprinkle dan Alat Pemadam Api

Marketing Pusat Grosir Solo

Alamat: Lantai 2 PGS , Jl. Mayor Sunaryo No. 1 Gladag – Solo
Telepon : 0271 – 666 800
Fax : 0271 – 660 900
HOT LINE : 0271 – 7588800





TRANSPORTASI MENUJU PUSAT GROSIR SOLO

DAMRI A
Terminal Palur – Jl Ir Sutami ( Kampus UNS – Sekarpace ) – RSUD Dr Moewardi – Panggung – Pasar Gede – Gladhak – Pusat Grosir Solo/Beteng Trade Centre – RS Kustati – Gading – Gemblegan – Patung Tipes – Lotte Mart – Baron – Gendengan – Solo Square – Mendungan – Kampus UMS – Kartasura
[ Terminal Palur - Jl Ir Sutami - Jl Kol. Sutarto - Jl Urip Sumoharjo - Jl Jend Sudirman - Jl Mayor Sunaryo - Jl Kapt. Mulyadi - Baturono - Jl Veteran - Jl Bhayangkara - Jl Dr Radjiman - Jl Dr Moewardi - Jl Slamet Riyadi (Solo Square) - Jl Ahmad Yani (Pabelan) - Kartasura ]

SUMBER RAHAYU


Belakang Kampus UNS – Jurug – Sekarpace – RSUD Dr Moewardi – Panggung – Pasar Gedhe – Gladhag – Pusat Grosir Solo/BTC – RS Kustati – Gading – Gemblegan – Patung Tipes – Lotte Mart – Baron – Gendengan – Solo Square – Mendungan – Kampus UMS – Kartasura
[ Jl Ki Hajar Dewantara - Jl Ir Sutami - Jl Kol. Sutarto - Simpang Panggung - Jl Urip Sumoharjo - Jl Jend Sudirman - Gladag - Jl Mayor Sunaryo - Jl Kapt. Mulyadi - Baturono - Jl Veteran - Jl Bhayangkara - Jl Dr Radjiman (Baron) - Jl Dr Moewardi (Gendengan) - Jl Slamet Riyadi (Solo Square) - Jl Ahmad Yani (Pabelan) - Kartasura ]
Kartasura – Kampus UMS – Solo Square – Stasiun Purwosari – Kampus UNISBA – Baron – SMAN 7 – Lotte Mart – Gemblegan – Nonongan – Gladhag – Pasar Gedhe – Panggung – RSUD Dr Moewardi – Sekarpace – Kampus ISI – Solo Techno Park – Belakang Kampus UNS – Jurug
[ Kartasura - Jl Ahmad Yani - Jl Slamet Riyadi (Purwosari) - Jl KH Agus Salim - Jl Dr Radjiman (Baron) - Jl Bhayangkara - Jl Veteran - Jl Yos Sudarso - Jl Slamet Riyadi (Gladag) - Jl Jend Sudirman - Jl Urip Sumoharjo - Simpang Panggung - Jl Kol. Sutarto - Jl Ki Hajar Dewantara - Jurug ]
SURYA KENCANA  A


Palur – Kampus UNS – Sekarpace – RSUD Dr Moewardi – Panggung – Pasar Gede – Gladhag – Kantor Pos – Keprabon – Mangkunegaran – Atria – RS PKU Muhammadiyah – Tiga Serangkai – SMA Muh 2 SKA – Kota Barat – Gendengan – Solo Square – Mendungan – Kampus UMS – Kartasura
[ Palur - Jl Ir Sutami - Jl Kol Sutarto - Simpang Panggung - Jl Urip Sumoharjo - Jl Jend Sudirman - Jl Ronggowarsito - Perempatan Tiga Serangkai - SMA Muh 2 SKA - Jl Yosodipuro - Kota Barat - Perempatan Gendengan - Jl Slamet Riyadi (Solo Square) - Jl Ahmad Yani (Pabelan) - Kartasura ]
Kartasura – Kampus UMS – Jl Slamet Riyadi – Gladag – Pasar Gedhe – Panggung – RSUD Dr Moewardi – Sekarpace – Kampus UNS – Palur
[ Kartasura - Jl Ahmad Yani (Pabelan) - Jl Slamet Riyadi - Gladag - Jl Jend Sudirman - Jl Urip Sumoharjo - Simpang Panggung - Jl Kol. Sutarto - Jl Ir Sutami - Palur ]

Posting by : Chintya putri .A.  tim (dwi prasetya, hendra kurniawan, nina widiyawati)