Mengunjungi Keraton Mangkunegaran Solo

Kita tahu dari sejarah bangsa ini bahwa banyaaakk sekali kerajaan-kerajaan
di Indonesia. Walaupun sudah bersatu dalam Negara kesatuan Republik Indonesia,
tetapi bukan berarti kerajaan-kerajaan itu punah. Masih banyak yang bertahan
dan peninggalan tradisi-tradisinya masih bisa kita lihat sampai saat ini.
Istana-istana kerajaan yang ada di Indonesia pun nggak kalah megahnya dengan
yang ada di luar negeri.
Salah satu yang sempat gue datengin adalah istana Mangkunegaran di kota
Solo. Eits, jangan salah ya. Di Solo ini ada dua keraton, yaitu Keraton
Kasunanan Surakarta, dan Keraton Mangkunegara atau yang sering disebut juga
sebagai Pura Mangkunegaran. KaloKeraton Kasunanan Surakarta itu yang
membangun adalah Sunan Paku Buwono II dan merupakan tempat tinggal resmi
keluarga Paku Buwono hingga saat ini. Sedangkan Pura Mangkunegaran dibangun oleh Raden Mas Said
alias Mangkunegara I sebagai tempat
kediaman Sri Paduka Mangkunegara dan keturunannya sampai sekarang. Iya,
emang kerajaan di Solo alias Surakarta ini
kebagi dua. Ribet bener kalo dijelasin di sini, silahan googling aja atau baca
Wiki-nya ya.
Nah, pas gue jalan-jalan ke Solo Juni kemarin,
gue berkesempatan untuk mengunjungi istana Mangkunegaran yang terkenal itu.
Istana ini memang lebih kecil dari keraton Kasunanan, tapi bukan berarti kalah
keren. Istana ini dibangun tahun 1757 setelah Perjanjian Salatiga yang membagi
kerajaan Surakarta jadi dua, yang juga berarti berdirinya kekuasaan
Mangukegaran. Yuk, buku sejarahnya dibuka lagi yaa.
Anyway. Setelah pintu masuk utama, terhampar halaman yang luas. Di halaman
Pura Mangkunegaran ini ada gedung kecil bergaya Belanda yang bertuliskan Kavalerie-Artillerie, yaitu yang dulunya sebagai tempat
latihan pasukan prajurit Mangkunegara. Kavalerie itu pasukan berkuda. Konon
dulunya, Mangkunegaran ini yang pertama kalinya melibatkan perempuan dalam
pasukannya lho. Jadi ada pasukan berkuda cewek juga. Di halaman ini juga
putri-putri raja dulu suka latihan berkuda dan diajarin megang senjata. Keren
yah!
Gedung Kavalerie-Artillerie tempat para prajurit Mangkunegaran, sekarang
udah tampak nggak terawat dan dihuni warga
Memasuki komplek istana ini nggak melalui pintu gerbang yang lebih kecil,
tetapi melewati sebuah bangunan yang berfungsi sebagai pendaftaran peserta. Nah
di sini rombongan gue musti bayar tiket masuk ke dalam dan ditemani oleh
seorang pemandu yang akan menjelaskan seluk beluk Pura Mangkunegaran ini. Dari
tempat pendaftaran, kita masuk ke halaman kompleks istana. Ada kolam ikan gede
yang baguus banget dengan patung di tengahnya. Nah di belakang kolam itu ada
bangunan pendopo yang besaaaarrr banget. Di bagian atap pendopo itu ada emblem
Mangunegaran yang diukir keemasan. Mirip banget kaya cipher di istana-istana kerajaan di Eropa. Kata
Ibu Pemandu sih emang dibikinnya di Eropa, antara Belgia atau Belanda, gitu.
Gue lupa. Keren banget, gue sampe terkagum-kagum liatnya.
Lambang Mangkunegaran dengan ukiran dari emas didatangkan dari Eropa
Pendopo itu semacam aula buat menerima tamu. Bangunan ini disebut Pendopo
Agung, alias pendopo besar yang kononnya sih bisa muat sampai 10 ribu orang,
makanya disebut-sebut sebagai pendopo paling gede se-Indonesia. Percaya sih,
emang luas banget, sekitar 3500 meter persegi. Tiang-tiangnya kalo kata Ibu
Pemandu sih diambil dari hutan Wonogiri. Bahkan yang empat tiang utamanya itu
(atau disebut Soko Guru, yang melambangkan empat elemen kehidupan) diambil dari
satu pohon yang dibelah empat. Gile, gede banget tu pohon yak! Udah ratusan
tahun pula umurnya itu pohon. Menurut kepercayaan, kalo berhasil memeluk tiang
itu (sampe tangannya bertaut ya), nanti keinginannya bisa terkabulkan. Langsung
aja dong temen-temen gue pada berlomba meluk tiang. Nggak ada yang berhasil
sih, hahaha
Keseluruhan bangunan Pura Mangkunegaran ini warnanya hijau muda, yang
ternyata merupakan warna simbol Mangkunegaran. Di langit-langit pendopo ini ada
delapan lukisan bermotif api, yang melambangkan semangat hidup. Tiap lukisan
api ini warnanya beda-beda, dan kata Ibu Pemandu nih…, artinya juga beda-beda.
Warna ungu untuk mencegah pikiran-pikiran buruk,
warna merahuntuk mencegah pengaruh setan, warna oranye untuk mencegah takut, warna putih untuk mencegah hawa nafsu, warna hijau untuk mencegah stres, warna hitam untuk mencegah lapar, warna biru mencegah penyakit, dan warna kuning untuk mencegah ngantuk. Gue nggak motret
sih langit-langit ini, susah! Nanti kamu liat sendiri aja yah di sana, hehehe.
Lukisan raja-raja
Mangkunegaran jaman dulu dipajang di atas meja resepsi
Kebetulan pas gue ke sana, sedang ada persiapan buat acara khusus malam
harinya di istana. Jadi banyak abdi-abdi dalem istana bersliweran nyiapin meja
kursi dan lain-lain, termasuk plakat foto leluhur Mangkunegaran dari jaman
dulu. Juga ada gamelan-gamelan yang dipersiapkan buat dipake di acara itu. Gue
lupa sih acara apa, sayangnya gue nggak lama di Solo jadi ga bisa ikutan liat
acara di istana itu.
Di pendopo ini ada tiga set gamelan yang usianya udah tua banget. Yang satu
dari tahun 1850 dan masih dimainkan tiap hari Sabtu pagi. Satu gamelan lagi
khusus dipakai untuk mengiringi tarian setiap hari Rabu, dan satu lagi set
gamelan yang paling tua di Jawa, yaitu dibuat tahun 1751 dibawa dari kota Demak
ke Surakarta. Gamelan ini cuma dipake di acara-acara khusus seperti perkawinan
atau penobatan raja. Selain itu, hiasan-hiasan di pendopo ini banyak yang
merupakan barang-barang dari Eropa. Yang hampir semuanya dari emas. Lampu-lampu
yang tergantung di atas pendopo ini semuanya dari Belanda yang diboyong tahun
1863. Semuanya berlapis emas, dan tadinya sih lampu lilin yah, tapi sekarang
udah dimodifikasi jadi bisa pake listrik. Lantai pendopo ini terbuat dari
marmer yang dibawa dari Italia tahun 1864. Sedangkan patung-patung yang
menghias pendopo ini ada yang dari Belgia, Cina, Prancis, dan negara-negara
Eropa lainnya. Wuiihh… hiasan emas segitu banyak, tapi kayanya nggak bakal ada
yang berani nyolong pasti yak, hehehe.
Setelah pendopo, ada bangunan utama Pura Mangkunegaran. Nah, begitu
memasuki bangunan utama, semua pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki.
Ibu Pemandu udah nyiapin kantong-kantong plastik untuk menenteng sepatu-sepatu
kita. Beliau juga mewanti-wanti supaya tidak berpisah dari rombongan selama
berada di dalam istana, dan dilarang mengambil gambar atau memotret benda-benda
yang ada di dalam. Di bagian depan bangunan depan ini ada lukisan-lukisan para
leluhur raja Mangkunegaran dan istri-istrinya. memasuki ruangan dalam istana,
rasanya sejuk dan auranya sakral banget. Ada lemari-lemari kaca yang berisi
barang-barang peninggalan kerajaan-kerajaan kuno seperti Majapahit, juga
senjata-senjata yang umurnya udah ratusan tahun.
Salah satu benda yang paling menarik di situ (yang nggak boleh dipoto)
adalah salah satu benda peninggalan jaman Majapahit. Bentuknya seperti tabung
berukuran 10-15 cm-an kira-kira, terbuat dari emas dan berbentuk ukiran kepala
naga dengan sisik-sisiknya yang runcing. Kata Ibu Pemandu, benda itu dipakaikan
oleh para istri raja-raja jaman dulu ke suaminya sebelum mereka pergi
berperang. Fungsinya untuk melindungi alat kelaminnya supaya selama pergi
berperang nggak selingkuh ama perempuan lain…. Eeeaaa keren juga yes alat
pencegah perselingkuhannya! Yang ajebnya, walaupun terbuat dari emas dan
dipasangkan dengan tali kulit, tapi benda ini juga diikan dengan mantra-mantra
jadi nggak bakal bisa dilepas. Hihihi dijamin ampuh tuh kayaknya. Versi buat
cewenya juga ada lho, tapi bentuknya berupa lempengan emas berukir yang juga
diikat dengan tali kulit. Sama juga, supaya para istri raja itu nggak selingkuh
selama suaminya pergi berperang. Hmmm, jaman sekarang masih ada nggak ya?
Keluar dari ruangan utama, ada taman di dalam Pura Mangkunegaran ini.
Tamannya cantik banget, dan di depannya ada sebuah bangunan yang disebut
beranda Dalem, alias ruang keluarga Mangkunegaran. Biasanya di sinilah sang
raja menerima tamu-tamu besar kenegaraan atau dari luar negeri. Ada ruang makan
dengan meja panjang juga di dalamnya. Bangunannya anggun banget dengan
kaca-kaca, dan kalo gue liat sih lebih bergaya Eropa dibanding ruangan utama
tadi.
Sayangnya karena keterbatasan waktu, gue nggak bisa lama-lama di Pura
Mangkunegaran ini. Tapi gue cukup puas karena udah bisa lihat-lihat ke dalam
termasuk bangunan-bangunannya. Lain kali kalo gue bisa ke Solo lagi, gue pasti
mampir ke sini lagi. Sekaligus juga gue pengen liat keraton Kasunanan yang satu
lagi. Asik juga ya belajar sejarah bangsa kita!
Posting by
Rimas Putri Utama Rekha (2014001751)
AMIK
Pabelan Sore
0 Komentar